Skip to main content

Posts

Pembelajar Teologi: Sebuah Refleksi Pribadi

" The study of theology has never been an easy task. Writers in past ages of the church . . . have declared with a notable uniformity that the study of theology calls for a complete devotion on the part of the student. They were convinced that it demands a mastery of tools and sources, a grasp of language and philosophy, and an openness to, indeed, a desire for inward, spiritual formation and development. " "Studi teologi tidaklah pernah mudah. Para penulis di gereja masa lampau . . . telah mendeklarasikan dengan cukup serempak bahwa studi teologi menuntut pengabdian yang utuh dari pihak si pembelajar. Mereka yakin bahwa studi tersebut menuntut penguasaan berbagai perangkat dan sumber,  pemahaman terhadap bahasa dan filsafat, dan sebuah keterbukaan, sebuah kerinduan terhadap perkembangan dan formasi spiritual yang sifatnya dari dalam." Kalimat di atas dikutip dari tulisan Richard A. Muller, seorang ahli teologi historika di Calvin Theological Seminary (...

Berbagi Cerita

Kira-kira beberapa jam yang lalu, di hari Senin minggu yang lalu (12/8), kami meninggalkan Jakarta. Lepas landasnya pesawat All Nippon Airways (NH 836) jam 6.15 pagi, menandai dimulainya sebuah babak baru bagi kami sekeluarga. Oleh anugerah Tuhan dan dukungan anak-anak Tuhan di GKY Mangga Besar, kami berangkat menuju sebuah sekolah yang sudah kami doakan sejak beberapa tahun yang lalu, yaitu Calvin Theological Seminary di Grand Rapids, Michigan, USA. Rute pertama penerbangan kami adalah dari Jakarta menuju Narita, Jepang. Bolak-balik kami melihat jam tangan, kok sepertinya jarumnya bergerak amat sangat lambat. Maklum ini adalah perjalanan pertama kami dengan pesawat terbang yang durasinya melebihi 3 jam. Setelah 7,5 jam, tibalah kami di Narita. Selain toilet, hal pertama yang kami cari adalah free wi-fi , supaya bisa memberi kabar kepada keluarga di Balikpapan dan Malang. Rasanya belum puas kaki ini menjejak di darat, kami sudah harus terbang lagi. Setelah transit di Narita se...

Youth on Fire

Saya selalu terharu setiap kali berkesempatan untuk melayani anak-anak muda. Semangat mereka yang membara, kehausan mereka yang besar akan cinta Tuhan, dan keberanian mereka yang total, acap membuat saya bersyukur akan kehadiran mereka di dalam tubuh Kristus. Bukan berarti saya tidak terharu dan bersyukur ketika melihat jemaat yang senior masih setia melayani. Namun anak-anak muda membawa kesan yang spesial di hati saya. Mungkin karena saya pernah dan masih muda, dan belum menjadi tua. Sabtu lalu (20/6), GKY merayakan penyertaan Tuhan bagi gereja-Nya selama 70 tahun. Hari itu, sekitar 6000 lebih jemaat dari berbagai lokal serta para undangan bersama-sama menyembah Tuhan yang adalah Kepala Gereja. Saya bersyukur karena di tengah-tengah masa transisi, Tuhan memberi kesempatan untuk saya boleh berbagian di dalam sukacita seluruh jemaat GKY. Tepat di penghujung ibadah syukur, ada satu bagian yang sangat mengharukan, dan lagi-lagi ini berhubungan dengan anak-anak muda. Sekitar 500 ...

Berikan Aku Beberapa Pelayan Tuhan yang "Jadul"

Saya harus mengakui bahwa aktivitas pelayanan di Jakarta lebih tinggi dibanding sebelumnya. Selain harus berkantor, saya dianugerahi beragam tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.  Konon katanya karena saya bukanlah orang baru di ladang ini. Namun secara sadar, saya tetap berupaya untuk tidak tenggelam dalam rutinitas.  Maka menorehkan tulisan di blog menjadi semacam "penolakan" terhadap kekuatan kesibukan  yang berpotensi menumpulkaan kepekaan terhadap ke-mahahadir-an Tuhan dalam hidup saya    Dan mungkin karena aktivitas yang padat, maka tulisan yang panjang diperlukan untuk memperkuat efek "penolakan" :) Kemarin malam, sewaktu rehat sejenak dari belajar mandiri, saya menemukan sebuah tulisan menarik.  Tulisan adalah artikel yang disumbangkan oleh Rev. Albert Ting, mantan rektor Singapore Bible College, kepada beberapa pendeta GKY yang masuk masa emeritasi atau pensiun.  Berdasarkan penelusuran, artikel ini rupanya pernah muncul di s...