Skip to main content

Jadikan Aku Tuhan, "Karet Gelang-Mu"

Sound familiar? Betul, saya memang sedikit "memelesetkan" bagian reff dari sebuah lagu yang cukup populer di persekutuan-persekutuan doa di banyak gereja, "Jadikan Aku Rumah Doa-Mu." Tidak ada yang salah dengan kalimat lagu tersebut. Lalu pertanyaannya, "Kenapa dipelesetkan?" Penasaran toh. Begini ceritanya . . .

Dari kemarin (10/11) saya terus mencari apa yang spesial di hari itu. Bukan! Saya tidak mencari hadiah atau kue ulang tahun, meskipun itu adalah hari ulang tahun saya. Ngomong2, sebelum lupa, terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengucapkan selamat maupun mendoakan saya. Yang saya cari adalah apa pesan khusus dari Tuhan yang perlu saya refleksikan di hari yang bersejarah dan tidak akan terulang lagi ini. Well, tampaknya tidak ada. Kebetulan kami sekeluarga sedang sibuk. Anak di sekolah, istri ada beberapa pertemuan, saya bergulat dengan Martin Luther. Hari yang spesial diakhiri dengan kerja membersihkan toilet di kampus.

Pagi tadi (11/11), saya dan istri ikut kebaktian di kampus. Dosen kami, Dr. Jeff Weima, yang berkhotbah. Dia membahas teks yang sudah pernah beberapa kali saya khotbahkan, sehingga jujur saya tidak berharap banyak. Jangan salah sangka! Saya tidak berharap banyak bukan karena pengkhotbahnya, sebab dia adalah salah satu pembicara terbaik di sini. Saya tidak berharap banyak sebab saya rasa saya sudah cukup tahu apa yang dibicarakan dalam teks tersebut. Dan memang dugaan saya tidak terlalu meleset. Sebagian besar saya sudah tahu.

Namun ada satu momen yang bagi saya berbicara sangat kuat. Dr. Weima mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Sebuah karet gelang. Saat itu dia sedang berbicara tentang frasa di dalam teks yang mengatakan bahwa Tuhan bekerja di dalam diri kita melampaui daya pikir kita. Di sini poin-nya! Sembari memegang karet gelang itu, dia mengucapkan kalimat yang secara bebas saya simpulkan: 
"Karet gelang ini adalah benda yang sebenarnya tidak berguna. Bahkan ini adalah benda yang habis-habisin tempat. Ia hanya akan berguna jika ia digunakan sesuai dengan tujuannya, dan itu berarti dia harus diregangkan. Dengan kata lain, karet gelang ini akan berguna jika ia elastis. Kita baru bisa berguna bagi Tuhan jika kita cukup elastis untuk diregang oleh Tuhan."

Makjleb...! Kalimat itu seolah begitu menohok dan menggugah saya. Dalam hati saya berkata: "Iya ya Tuhan, aku tidak perlu jadi macam-macam untuk bisa dipakai Tuhan. Cukup jadi 'karet gelang-Mu.'" 

Kuncinya adalah apakah saya cukup elastis, sehingga mau ditarik sekuat apapun saya tidak keberatan. Mau dipelintir berkali-kalipun saya bersedia. Bahkan, mau dipakai untuk mengikat nasi bungkus sekalipun saya rela. Sederhana, tetapi bukan perkara mudah. Sebab saya tahu seringkali saya berkeras pada apa yang saya pikir baik. Saya mati-matian tidak mau melunak sedikitpun untuk sesuatu yang menguntungkan saya. Saya terkadang terlalu kaku, sehingga keberadaan saya tak ubahnya hanya menuh-menuhin tempat saja. 

Apakah iman saya cukup elastis ketika doa saya tidak dikabulkan? Apakah pengharapan saya cukup elastis ketika beban hidup terasa berat? Apakah kasih saya cukup elastis ketika tuntutan kesibukan begitu menyita perhatian? Kyrie Eleison! Have mercy on me, Lord

Maka, itulah doa dan permohonan saya di hadapan Tuhan. Bukan untuk jadi apa-apa. Cukup jadikan aku karet gelang-Mu, Tuhan!

Comments

Popular posts from this blog

El-Shaddai di Tengah Rapuhnya Hidup

Life is fragile!   Hidup ini rapuh!  Fakta ini kian disadari dan diakui akhir-akhir ini oleh manusia di seluruh belahan bumi.  Tidak perlu gelombang laut sedahsyat Tsunami, atau gempa bumi sebesar 9 skala Richter.  Hanya sebuah virus yang tidak kasat mata, tapi cukup digdaya untuk melumpuhkan hampir seluruh segi kehidupan, termasuk nyawa kita.  Saking rapuhnya hidup ini, sebuah virus pun sudah terlalu kuat untuk meluluhlantakkannya.  Semua kita rapuh, tidak peduli latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial kita. Life is fragile!   Hidup ini rapuh!  Bagaimana kita bisa menjalani fakta ini?  Bagaimana kita bisa merangkul realitas ini, tanpa membiarkannya menggerogoti harapan hidup kita?  Tidak ada jalan lain: Kembali kepada Tuhan!  Kembali pada firman-Nya! Salah satu cara efektif yang bisa menolong kita untuk kembali kepada Tuhan dan firman-Nya adalah dengan memuji Tuhan.  Puji-pujian yang baik dapat mengarahkan, s...

Istriku

Engkau tidak marah ketika orang lain memanggilmu Ibu Lucky,      meski nama yang diberikan orangtuamu mungkin lebih indah Engkau tidak keberatan ketika harus lebih banyak mengerjakan urusan domestik,      meski gelar akademik dan kemampuanmu tidak kurang Engkau tidak protes ketika suamimu sedang frustrasi dengan tugas-tugasnya,      meski mungkin tugas-tugasmu sebagai ibu rumah tangga tidak kalah beratnya Engkau rela tidurmu terganggu oleh teriakan dan tangisan anakmu,      meski dia tidak membawa nama keluargamu sebagai nama belakangnya Engkau rela menggantikan peran ayah ketika suamimu sedang dikejar tenggat waktu,      meski engkau sendiri pun sudah 'mati gaya' untuk memenuhi permintaan anakmu Engkau rela waktu dan perhatian suamimu acapkali lebih besar untuk anakmu,      meski engkau sudah memberikan perhatian yang tidak sedikit untuk suamimu Engkau rela keinginanmu studi la...

Jonathan Edwards

Sinners in the Hands of an Angry God , mungkin adalah salah satu khotbah yang paling fenomenal di dalam sejarah gereja Kristen, khususnya di Amerika.  Khotbah yang disampaikan kepada jemaat di Enfield, Connecticut, pada tanggal 8 Juli 1741 ini terambil dari teks Ul. 32:35.  Mungkin kita membayangkan khotbah tersebut disampaikan dengan nada yang setengah berteriak, mata melotot, dan tangan yang menunjuk-nunjuk ke arah jemaat. Namun sebenarnya menurut Wiersbe, hari itu Edwards berkhotbah sebagaimana biasanya: tenang, cenderung membaca naskah, dan hampir tidak menatap jemaat.  Saya yakin sebagian besar orang Kristen di zaman sekarang tidak tertarik dengan gaya khotbah Edwards. Tapi hari itu sebuah kebenaran yang kerap dilupakan oleh banyak orang dinyatakan oleh Tuhan: Roh Kudus bisa bekerja dengan luar biasa dengan cara-cara yang nampaknya biasa di mata manusia. Jonathan Edwards dilahirkan di sebuah keluarga pendeta pada tanggal 5 Oktober 1703 di East Windsor, Connect...