Skip to main content

Posts

Lilian dan Rabu Abu

Malam ini merupakan moment  yang spesial bagi kami. Bersama dengan gereja-gereja di seantero bumi, kami datang ke gereja dan memperingati Rabu Abu ( Ash Wednesday ). Peringatan ini menjadi tanda dimulainya masa 40 hari menjelang Paskah (minus hari Minggu), yang disebut masa Lent. Sekadar informasi, Lent sudah menjadi bagian dari kehidupan gereja sejak kira-kira abad ke-2 atau 3, meski durasi 40 hari merupakan perkembangan di beberapa abad kemudian. Mengapa spesial bagi kami? Pertama , ini adalah moment pertama kalinya kami khusus ke gereja memperingati Rabu Abu. Gereja tempat kami beribadah menyelenggarakan ibadah khusus, dan ini adalah Christian Reformed Church in North America, salah satu denominasi Reformed yang tertua. Kedua , ini pun adalah pertama kalinya kami menerima tanda abu di dahi, sebagai simbol yang mengingatkan bahwa "manusia berasal dari debu dan suatu saat akan kembali menjadi debu." Bagi kami, tentu pengalaman ini sangat berkesan kuat; sama kuatnya ...

Gereja dan Ibu

Dua minggu terakhir ini, saya sedang membaca sebuah buku berjudul Christianity in Roman Africa: The Development of Its Practices and Beliefs  (Grand Rapids: Eerdmans, 2014). Kebetulan dosen saya di CTS, Dr. John Witvliet, yang menyuruh saya untuk menghabiskan buku setebal 670 halaman ini selama liburan musim dingin, sewaktu saya meminta panduan beliau untuk studi mandiri saya. Ada beberapa hal menarik dari buku ini, khususnya karena buku ini mencatat sejarah perkembangan ritual dan teologi di gereja-gereja di Afrika Utara, dari kira-kira abad ke-2 hingga abad ke-7. Meski khususnya penting bagi mereka yang mendalami ibadah, buku ini juga penting karena berpusat pada 3 tokoh penting dalam sejarah gereja: Tertullian, Cyprian, dan Augustine. 1 bab dari buku ini khusus mengulas bukti-bukti arkeologis yang dapat memberikan gambaran ritual-ritual yang dipraktikkan gereja pada masa itu, seperti bentuk bangunan gereja, ornamen-ornamen dan arsitekturnya, termasuk kolam baptisan dan...

Mengapa Mendalami Ibadah?

Itu adalah pertanyaan yang beberapa kali dikemukan kepada saya, ketika saya mengisahkan rencana saya untuk studi lanjut, dan bidang apa yang akan saya tekuni. Cukup banyak yang mengapresiasi bahkan mendukung pilihan saya. Tetapi ada juga yang merasa heran: "Apa perlu sampai sekolah lagi, jauh-jauh ke Amerika, dengan biaya yang besar, hanya untuk belajar tentang ibadah?" Ada pula yang bertanya-tanya: "Untuk apa lulusan teologi, seorang rohaniwan purnawaktu di gereja yang kebanyakan tugasnya seputar mengajar dan berkhotbah, lalu mengambil gelar di bidang ibadah? Mestinya serahkan saja bidang itu kepada mereka yang lulusan musik gereja." Juga ada yang berkomentar: "Oh Th.M (Master of Theology) bidang ibadah? Memangnya ada ya? Bukannya ibadah itu urusan praktis dan bukan akademik ya? Berarti mendalami yang praktis-praktis saja dong?" Dan tentu saja ada yang berpikir: "Bakal mendalami musik ya?" (sebab mereka tahu saya suka dan bisa bermain musik). ...

Christ Be My Light: Resolusi 2016

Banyak orang menutup tahun 2015 dan membuka tahun 2016 dengan membuat resolusi. Resolusi seakan telah menjadi aktivitas rutin di penghujung atau pembuka tahun. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan secara spesifik apa yang menjadi resolusi saya tahun ini. Salah satu alasannya sangat sederhana: saya berulangkali gagal mewujudkannya. Namun pagi ini, saya terdorong untuk membuat sejenis "resolusi." Celakanya, ini tidak lebih sederhana dari resolusi-resolusi yang pernah saya buat, dan yang gagal saya wujudkan di tahun-tahun sebelumnya. Begini ceritanya: Mungkin tidak banyak yang tahu (khususnya di Indonesia) bahwa tanggal 6 Januari adalah hari yang spesial di dalam sejarah gereja. Berabad-abad gereja memperingati hari raya yang disebut "Epiphany" ini. Sayangnya, kebanyakan gereja modern lebih menonjolkan Natal dan Paskah daripada Epiphany. Singkatnya, Epiphany berasal dari kata Yunani yang bisa diterjemahkan sebagai "menyatakan ( to reveal )," atau ...

Happy New Year!

"Apa?! Ga salah? Bulan November saja masih belum berlalu, dan penulis blog ini sudah mengucapkan selamat tahun baru?" Ya, betul. Anda tidak salah baca. Saya benar-benar mengucapkannya setulus hati saya kepada teman-teman semua. Dan, saya tidak salah membaca kalendar. Oh, tentu keliru jika mengacu pada civic calendar , yang memulai tahun baru di tanggal 1 Januari. Tetapi jika mengacu pada liturgical calendar , maka Minggu ini adalah tahun yang baru untuk kita. Hari ini (waktu Grand Rapids) adalah Minggu Advent yang pertama. Spontan muncul dalam ingatan saya: "Rasanya baru kemarin saya menulis pesan pastoral kepada jemaat GKY Singapore via blog selama 4 Minggu Advent. Rupanya sudah 1 tahun berlalu sejak saat itu." "Advent, berarti Natal sudah dekat. Sebagian orang spontan bernostalgia, mengenang memori yang indah di Natal-natal sebelumnya. Sebagian lagi memilih sikap sinis, karena terlalu pesimis melihat dunia ini tidak kunjung damai meski sang Raja dama...

Istriku

Engkau tidak marah ketika orang lain memanggilmu Ibu Lucky,      meski nama yang diberikan orangtuamu mungkin lebih indah Engkau tidak keberatan ketika harus lebih banyak mengerjakan urusan domestik,      meski gelar akademik dan kemampuanmu tidak kurang Engkau tidak protes ketika suamimu sedang frustrasi dengan tugas-tugasnya,      meski mungkin tugas-tugasmu sebagai ibu rumah tangga tidak kalah beratnya Engkau rela tidurmu terganggu oleh teriakan dan tangisan anakmu,      meski dia tidak membawa nama keluargamu sebagai nama belakangnya Engkau rela menggantikan peran ayah ketika suamimu sedang dikejar tenggat waktu,      meski engkau sendiri pun sudah 'mati gaya' untuk memenuhi permintaan anakmu Engkau rela waktu dan perhatian suamimu acapkali lebih besar untuk anakmu,      meski engkau sudah memberikan perhatian yang tidak sedikit untuk suamimu Engkau rela keinginanmu studi la...

Habitus Memuji Tuhan

Kita semua tahu bahwa mengulang-ulang ( repeating ) adalah cara klasik namun efektif untuk membentuk sebuah kebiasaan ( habit ) yang baru. Jika kita telusuri, maka kehidupan kita sesungguhnya dibentuk oleh beragam kebiasaan. Lucky adalah seseorang yang menyukai masakan chinese , oleh karena sejak kecil hingga dewasa dia berulangkali (baca: lebih sering) mengonsumsi chinese food dibanding jenis lainnya. Tentu yang paling "berjasa" dalam hal ini adalah mama saya, dengan menu masakannya yang selalu membuat saya homesick :) Sebagai orangtua, saya dan istri pun mengaplikasikan "cara klasik" tersebut untuk mendidik anak kami. Kami mengajarkan dia menyapa orang lain, makan 3x sehari, dan yang paling susah hingga hari ini, mengajarkan dia tidur tepat waktu di malam hari. Maklum, ada unsur genetis di sini :) Yang jelas, apa yang kami lakukan sama seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orangtua. Jadi, tidaklah berlebihan jika ada orang pernah berkata: "Kalau mau tah...