Friday, 26 May 2017

Dear Adik-adikku

21 tahun lalu, tidak ada satupun dari antara kita berempat yang berani bermimpi untuk duduk di bangku kuliah.  Kita sama-sama tahu, dengan kondisi ekonomi keluarga kita yang morat-marit sejak 2 tahun sebelumnya, untuk biaya sekolah saja kita harus memohon keringanan.  Aku masih ingat, uang SPP-ku waktu itu hanya Rp.16.000 per bulan.  Itupun berat untuk kita.  Ditambah dengan berpulangnya papa kita yang terkasih, kita semua sadar bahwa kita hanya punya satu tujuan: menamatkan SMA dan bekerja.  Selagi kita masih belum mampu menghasilkan uang, satu-satunya yang kita bisa lakukan waktu itu adalah mengeluarkan uang sesedikit mungkin dari yang sudah sedikit itu.  Tentu saja ada banyak orang-orang yang senasib dengan kita, atau malah lebih susah hidupnya.  Namun masih teringat jelas waktu aku SMP, aku tidak punya uang mengganti sepatuku yang sudah ‘minta makan’.  Temanku, Andhika, dia yang memberikan sepatu bekasnya untukku. Kakak kelasku, Joseph, dia memberikan tas merk Alpina miliknya yang sudah penuh coretan dan kusam untukku, sehingga aku bisa sedikit berbangga karena menggendong tas yang lagi nge-trend di Balikpapan waktu itu.  Masih segar juga di ingatanku di suatu hari Jumat. Itu sudah ketiga kalinya aku terlambat ke sekolah. Kalian tentu masih ingat supir angkot selalu membuang muka setiap kali melihat anak berseragam sekolah melambaikan tangan, sebab sudah makan tempat, bayarnya cuma Rp. 300.  Aku dihukum oleh guru piket. Dia juga menegur kaus kakiku yang terlihat terlalu pendek. Sampai akhirnya dia lihat sendiri, kaus kakiku terlihat pendek karena karetnya sudah kendur. Aku tahu dia menyesal, sebab sesudah itu dia menyuruhku mencari karet gelang di kantin untuk membuat kaus kakiku terangkat. Siapa di antara kita yang berani membuka mulut di depan mama kita? Kita sama-sama tahu betapa kerasnya dia bekerja membanting tulang, dari pagi hingga malam, di dalam kota dan luar kota.  Masih ada nasi di rumah saja sudah bersyukur.

Ada satu hal yang membuatku takjub.  Bertahun-tahun kita tinggal di rumah yang nyaris rubuh, ditemani oleh laba-laba, kecoa, dan tikus yang nyaris sebesar kucing.  Bertahun-tahun juga kita hanya makan nasi dan telur kukus, yang dimasak dengan air dan garam yang banyak, supaya cukup untuk 5 mulut.  Bahkan saat teman-teman kita mulai berkawan dengan komputer, kita masih setia dengan 2 P—paper and pencil.  Herannya, kita masih bertahan.  Tidak ada yang terkena penyakit serius.  Di antara kita berempat, hanya aku yang masih kurus dan terlihat kurang gizi; kalian bertiga nampak sehat dan atletis.  Dan, satu-per-satu kita duduk di bangku kuliah.  Dua dari antara kita berempat mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan pascasarjana dari sekolah yang baik.  Aku bahkan mendapat bonus untuk bersekolah di luar negeri, dua kali!  Dan aku yakin, akan ada waktu-waktu di mana foto-foto dengan gaun kelulusan sudah terlalu penuh untuk digantung di dinding rumah mama kita.  Mimpikah kita?  Kita tidak berani bermimpi, tapi inilah mimpi terbesar mama kita sejak dulu: melihat anak-anaknya lulus kuliah.

Maka camkanlah hal ini: Gusti ora sare!  Mei 1996, saat papa kita meninggal, tidak ada satu pun hal baik yang kita bisa lihat.  Tetapi 21 tahun setelah hari itu, di mana Tuhan?  Rupanya Dia ada di hari-hari yang berat itu.  Dia tidak tidur bahkan pada waktu kita tertidur karena kelelahan akibat menangis seharian.  Dia memang membawa papa kita pulang ke pangkuan-Nya, tetapi Dia tidak melupakan kita dan membuang kita dari pangkuan kasih-Nya.  Aku adalah saksi hidup dari fakta ini, demikian pula kalian.  Maka, tataplah hari depan dengan kepala yang terangkat, dengan wajah yang senantiasa memandang kepada Tuhan.  Supaya kita tidak sombong ketika senang, tidak tawar hati ketika susah.  Supaya kita ingat untuk memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.  Hari ini, mimpi mama sudah terpenuhi. Kita semua sudah menyandang gelar sarjana.  Aku yakin dia punya mimpi yang baru: melihat anak-anaknya lulus dalam kuliah kehidupan.

26 Mei 2017,
di hari kelulusan Lucas, anak terakhir di keluarga Susanto


  


Saturday, 7 January 2017

Latihan Rohani di WC

Dulu sewaktu di seminari, saya sering mendengar kisah perjuangan para dosen yang pernah menempuh studi lanjut di Amerika. Salah satu cerita yang paling umum selain berjuang untuk beradaptasi adalah berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ya, mereka harus belajar sambil bekerja di kampus. Bekerja sebagai janitor atau tukang bersih-bersih adalah jenis pekerjaan yang relatif paling mudah didapatkan mengingat pekerjaan di kampus sangat terbatas. Dan itulah yang mereka kerjakan! Dulu saya sulit membayangkan mereka yang adalah dosen saya harus bekerja sebagai janitor. Namun sekarang, saya pun menjalani kisah yang sama dengan mereka. Sudah sekitar 6 bulan lamanya saya bekerja membersihkan WC di kampus.

Salah seorang teman di sini pernah nyeletuk dengan nada bercanda: "Kerja janitorial menolong kita untuk tetap rendah hati." Saya setuju dengan beliau. Bukan berarti menjadi janitor adalah pekerjaan yang lebih rendah, sebab setidaknya di sini, membersihkan WC dan menjadi asisten dosen gajinya relatif sama nominalnya. Saya setuju sebab setiap kali saya membersihkan WC, bergulat dengan sampah, kotoran, dan bau tidak sedap, saya diingatkan untuk belajar rendah hati. Lah kok bisa?

Secara fisik misalnya, saya harus berulang kali menunduk. Menunduk adalah ekspresi merendahkan diri. Membersihkan WC seolah menjadi latihan untuk mewujudkan kerohanian (embodied spirituality) agar tidak hanya bersifat abstrak semata. Lagipula spiritualitas Kristen tidak pernah berhenti di diskusi-diskusi imajiner yang mengawang-awang dan tidak kelihatan praktiknya; itu adalah spiritualitas gnostik!

Secara akal, saya selalu tahu bahwa ini seperti melakukan aktivitas yang sia-sia. Segera sesudah WC-nya bersih, akan ada lagi yang sengaja atau tidak mengotorinya. Dan, tidak ada yang memuji atau penasaran siapa yang membuat WC-nya begitu bersih dan wangi. Terus terang, meminjam ungkapan yang sedang kekinian, "di situ kadang saya merasa sedih." Tetapi lagi-lagi kurikulum rendah hati berperan. Saya belajar bahwa tekun dan tidak mencari pujian adalah karakteristik dari kerendahan hati. Lagipula, ini adalah karakter yang diperlukan di dalam pelayanan penggembalaan di gereja. Tekun untuk mengasihi dan melayani domba-domba milik Tuhan, tanpa harus terganggu dengan adanya pujian atau tidak.

Ah, perenungan ini mengingatkan saya akan pesan dari Pdt. Hendra Mulia dan Pdt. Daniel Lukito sebelum saya berangkat studi: Jangan lupa untuk terus rendah hati! Namun malam ini, ada satu figur lagi yang juga mengatakan tentang pentingnya rendah hati. Kalimat ini tidak langsung ditujukan secara pribadi kepada saya, sebab ini adalah pesan dari Agustinus kepada muridnya yang bernama Dioscorus. Karena tanpa sengaja saya menemukan kalimat ini, saya rasa pesan ini pun juga untuk saya. Dioscorus bertanya kepada gurunya tentang cara untuk mencapai kebajikan tertinggi yaitu mengenal Tuhan. Inilah jawaban Agustinus:

Cara itu adalah, pertama, rendah hati; kedua, rendah hati; ketiga, rendah hati; 
dan berapa banyak kali pun engkau menanyakannya, aku akan mengatakan kepadamu, rendah hati. 
Bukannya aku tidak bisa memberitahukanmu prinsip-prinsip lain, tetapi tanpa rendah hati 
yang mendahului, mengiringi, dan mengakhiri seluruh perbuatan-perbuatan baik kita, 
dan yang menjadi sasaran yang kepadanya kita terarah, 
yang menjadi patokan yang kepadanya kita berpegang,
dan yang menjadi liang yang mewadahi kita;
kesombongan akan merenggut nikmatnya perbuatan baik dari genggaman kita.

Masih ada sekitar 6 bulan lagi bekerja di WC. Semoga Tuhan berkenan menyatakan dirinya, sekalipun di tempat yang mungkin tidak terhormat seperti WC. Ah, dunia yang hina ini saja Ia datangi, apalagi hanya sekadar WC!

Grand Rapids
Mengawali 2017




Friday, 11 November 2016

Jadikan Aku Tuhan, "Karet Gelang-Mu"

Sound familiar? Betul, saya memang sedikit "memelesetkan" bagian reff dari sebuah lagu yang cukup populer di persekutuan-persekutuan doa di banyak gereja, "Jadikan Aku Rumah Doa-Mu." Tidak ada yang salah dengan kalimat lagu tersebut. Lalu pertanyaannya, "Kenapa dipelesetkan?" Penasaran toh. Begini ceritanya . . .

Dari kemarin (10/11) saya terus mencari apa yang spesial di hari itu. Bukan! Saya tidak mencari hadiah atau kue ulang tahun, meskipun itu adalah hari ulang tahun saya. Ngomong2, sebelum lupa, terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengucapkan selamat maupun mendoakan saya. Yang saya cari adalah apa pesan khusus dari Tuhan yang perlu saya refleksikan di hari yang bersejarah dan tidak akan terulang lagi ini. Well, tampaknya tidak ada. Kebetulan kami sekeluarga sedang sibuk. Anak di sekolah, istri ada beberapa pertemuan, saya bergulat dengan Martin Luther. Hari yang spesial diakhiri dengan kerja membersihkan toilet di kampus.

Pagi tadi (11/11), saya dan istri ikut kebaktian di kampus. Dosen kami, Dr. Jeff Weima, yang berkhotbah. Dia membahas teks yang sudah pernah beberapa kali saya khotbahkan, sehingga jujur saya tidak berharap banyak. Jangan salah sangka! Saya tidak berharap banyak bukan karena pengkhotbahnya, sebab dia adalah salah satu pembicara terbaik di sini. Saya tidak berharap banyak sebab saya rasa saya sudah cukup tahu apa yang dibicarakan dalam teks tersebut. Dan memang dugaan saya tidak terlalu meleset. Sebagian besar saya sudah tahu.

Namun ada satu momen yang bagi saya berbicara sangat kuat. Dr. Weima mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Sebuah karet gelang. Saat itu dia sedang berbicara tentang frasa di dalam teks yang mengatakan bahwa Tuhan bekerja di dalam diri kita melampaui daya pikir kita. Di sini poin-nya! Sembari memegang karet gelang itu, dia mengucapkan kalimat yang secara bebas saya simpulkan: 
"Karet gelang ini adalah benda yang sebenarnya tidak berguna. Bahkan ini adalah benda yang habis-habisin tempat. Ia hanya akan berguna jika ia digunakan sesuai dengan tujuannya, dan itu berarti dia harus diregangkan. Dengan kata lain, karet gelang ini akan berguna jika ia elastis. Kita baru bisa berguna bagi Tuhan jika kita cukup elastis untuk diregang oleh Tuhan."

Makjleb...! Kalimat itu seolah begitu menohok dan menggugah saya. Dalam hati saya berkata: "Iya ya Tuhan, aku tidak perlu jadi macam-macam untuk bisa dipakai Tuhan. Cukup jadi 'karet gelang-Mu.'" 

Kuncinya adalah apakah saya cukup elastis, sehingga mau ditarik sekuat apapun saya tidak keberatan. Mau dipelintir berkali-kalipun saya bersedia. Bahkan, mau dipakai untuk mengikat nasi bungkus sekalipun saya rela. Sederhana, tetapi bukan perkara mudah. Sebab saya tahu seringkali saya berkeras pada apa yang saya pikir baik. Saya mati-matian tidak mau melunak sedikitpun untuk sesuatu yang menguntungkan saya. Saya terkadang terlalu kaku, sehingga keberadaan saya tak ubahnya hanya menuh-menuhin tempat saja. 

Apakah iman saya cukup elastis ketika doa saya tidak dikabulkan? Apakah pengharapan saya cukup elastis ketika beban hidup terasa berat? Apakah kasih saya cukup elastis ketika tuntutan kesibukan begitu menyita perhatian? Kyrie Eleison! Have mercy on me, Lord

Maka, itulah doa dan permohonan saya di hadapan Tuhan. Bukan untuk jadi apa-apa. Cukup jadikan aku karet gelang-Mu, Tuhan!

Monday, 17 October 2016

Terima Kasih, Anakku!

"I wonder what present I will get on my birthday!" Rasanya hampir tidak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak kami beberapa hari lalu. Ya, saya takjub melihat bagaimana dia bertumbuh begitu cepat. Saat kami pindah ke Singapore, dia masih belajar berbicara dalam bahasa Indonesia. Saat kami pindah ke Grand Rapids, dia sama sekali tidak berbicara dalam bahasa Inggris kecuali melafalkan alfabet dan angka, serta beberapa kata-kata pendek yang umum. Namun sekarang, kami sebagai orangtua sulit untuk menyimpulkan apakah dia cakap berbahasa Indonesia atau Inggris, sebab nampaknya dua bahasa tersebut berkembang secara bersamaan dalam diri anak kami. Kembali ke kalimat di atas, diam-diam dalam hati saya berkata: "Oalah nak, papamu bahkan baru bisa dan terbiasa pakai frasa 'I wonder' baru-baru ini. Eh kamu masih kecil sudah bisa ngomong 'I wonder.' Nasib!" :)

Hari ini anak kami tepat berusia 5 tahun menurut waktu Grand Rapids. Alih-alih merayakannya secara spesial, saya dan istri baru tersadar beberapa hari lalu bahwa tepat hari ini saya harus menghadiri pertemuan dengan beberapa dosen dan mahasiswa di bidang studi liturgi dari University of Notre Dame yang sedang berkunjung ke Calvin. Alhasil, saya harus melarikan diri sejenak dari makan malam bersama dengan para tamu, untuk bisa sekadar makan malam, meniup lilin, dan berdoa bersama untuk anak kami. Setelah itu, saya harus buru-buru kembali ke pertemuan, dan dilanjutkan dengan bekerja di seminari. Untunglah dia terhibur dengan birthday present yang memang sudah kami siapkan sejak beberapa waktu lalu.

Itulah sebabnya saya menyempatkan diri untuk menorehkan sesuatu di blog ini. Selain ucapan selamat ulang tahun, saya ingin mengatakan: "Terima kasih, anakku!  Terima kasih karena dengan segala kepolosanmu, kamu tidak marah ketika papamu tidak bisa menghabiskan waktu yang banyak denganmu di hari ulang tahunmu. Terima kasih karena rela mengikuti papamu berpindah-pindah, sehingga kamu harus merayakan 4 kali ulang tahunmu tidak di tanah kelahiranmu. Dan di atas semuanya, terima kasih karena lewat kamu, Tuhan mendidik papa dan mama dalam banyak hal. One day, when you read this note, we hope that you will know how much we are grateful to be your parents."

Grand Rapids, October 17, 2016
On Your 5th Birthday




Sunday, 6 March 2016

Allah yang Misterius

Bagaimana kita mencoba mengetahui Tuhan di tengah fakta 
bahwa sejatinya Dia tidak mampu kita ketahui?

Kira-kira itulah bagian yang sangat menggelitik saya ketika membaca tulisan Andrew Louth, Introducing Eastern Theology. Ya, memang akhir-akhir ini saya tertarik dengan tradisi Kekristenan Timur, dan membeli buku ini adalah salah satu upaya berkenalan lebih dalam. Mungkin sama seperti saya, anda pun akan terkesima dengan banyaknya hal-hal berharga yang bisa dipelajari dari mereka, sebagaimana juga yang kita bisa pelajari dari saudara-saudara di tradisi Katolik, atau tradisi lainnya.

Louth mendekati pertanyaan di atas dari sudut yang berbeda, yaitu dari sudut pandang tradisi Ortodoks Timur. Menurutnya, pada umumnya kita mulai dari doktrin, misalnya doktrin Allah. Tetapi sekali lagi, bagaimana kita bisa mencoba mengetahui Allah sementara faktanya Dia tidak mampu kita ketahui? Dia mengusulkan, kita seharusnya mulai dari sebuah kesadaran (awareness) bahwa Pribadi yang hendak kita ketahui sesungguhnya melampaui daya pikir kita. Kita harus berangkat dari pengakuan bahwa sesungguhnya kita sedang berdiri di hadapan Allah yang misterius. Inilah titik mula jika kita ingin memulai pengenalan kita akan Tuhan menurut tradisi Ortodoks Timur.

Kita tentu langsung mengerti mengapa Louth dan saudara-saudara kita dari Ortodoks Timur menyatakan bahwa 'titik mula' yang mereka maksud itu adalah worship atau menyembah. Menyadari dan mengakui bahwa Allah terlalu misterius untuk diselidiki oleh akal manusia sesungguhnya adalah sebuah sikap menyembah. Dan worship bukan hanya menjadi 'titik mula' tetapi juga 'titik puncak': mulai dengan sikap menyembah, dan setelah kita 'mengenal' Tuhan, kita pun sekali lagi tersungkur menyembah Dia. Kita juga akan semakin paham mengapa ibadah atau liturgi seolah menjadi titik berangkat dari mereka. Jika kita bertanya kepada orang Ortodoks dari mana saya harus mulai jika ingin mengenal Tuhan, jawabannya adalah: mulai dari ibadah Minggu. Mengapa? Sebab di waktu itulah kita diajak untuk berhadapan dengan Allah yang misterius.

Saya belum pernah beribadah di gereja Ortodoks. Namun berdasarkan beberapa informasi yang saya dapatkan, ritual dan ornamen tertentu sengaja dihadirkan untuk menolong jemaat ingat bahwa mereka berhadapan dengan Allah yang misterius. Saya tentu tidak mengatakan bahwa kita harus mengadopsi tradisi mereka ke dalam ibadah kita--meski dalam beberapa hal saya mungkin akan setuju. Tetapi jika kita mencermati ibadah di gereja-gereja berlatarbelakang Injili, bukankah perasaan bahwa kita sedang berada di hadapan Allah yang misterius itu kian pudar. Kita harus mengakui, mungkin kita terlalu overfamiliar dengan Tuhan!

Lantas bagaimana kita bisa mencoba untuk mengembalikan kesadaran tersebut, khususnya di dalam konteks ibadah Minggu? Langkah sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan mengambil waktu teduh sebelum ibadah. Yang saya maksud bukanlah sekadar diam tidak bersuara dan tutup mata. Bukan juga sekadar menaikkan doa, sebab seringkali saya menemukan ada yang beranggapan bahwa itu adalah waktu untuk berdoa apa saja kepada Tuhan; mungkin dianggap lebih manjur jika doanya sebelum ibadah. Lalu apa yang sebaiknya kita minta kepada Tuhan? Ini yang saya minta tadi pagi sebelum ibadah mulai:

"Tuhan, Engkau terlalu besar untuk diselami, 
Engkau terlalu misterius bagi pikiranku yang terbatas ini. 
Segala doa dan pujianku tidak cukup untuk menjelaskan siapa Engkau. 
Tapi aku rindu menyembah-Mu, aku rindu berjumpa dengan-Mu, aku rindu mengenal-Mu. 
Mohon Engkau beranugerah. Mohon Allah Roh Kudus memimpin dan menolongku. Amin!"

Puji Tuhan, ada pengalaman dan berkat yang saya terima. Doa tersebut menolong saya untuk tidak hanya sekadar melihat pujian sebagai nyanyian, tetapi sebagai pengakuan akan ke-'misterius'-an (baca: kebesaran) Tuhan. Khotbah tidak semata-mata hanya waktu mendengar penjelasan firman, tetapi menjadi moment mendengarkan apa yang Sang Misteri itu nyatakan kali ini. Perjamuan Kudus tidak hanya rutinitas belaka, tetapi menjadi kesempatan menantikan bagaimana roti dan anggur secara misterius (di luar kemampuan akal) memberi nutrisi bagi jiwa saya. Ketika ibadah berakhir, ada rasa syukur yang meluap-luap, sebab Pribadi yang misterius itu berkenan untuk ditemui. 

Saya bertekad, inilah permohonan saya setiap kali datang menghadap Tuhan. Tujuannya sederhana: (1) agar saya tidak lupa bahwa saya sedang berhadapan dengan Pribadi yang misterius; (2) agar saya ingat bahwa sepanjang ibadah saya membutuhkan anugerah-Nya untuk mengalami dan mengenal Dia, dan; (3) agar seusai ibadah, saya tidak berhenti untuk selalu rindu 'menyembah' (baca: mengenal) Dia di dalam keseharian. 

Bagaimana dengan anda?
   

Wednesday, 10 February 2016

Lilian dan Rabu Abu

Malam ini merupakan moment yang spesial bagi kami. Bersama dengan gereja-gereja di seantero bumi, kami datang ke gereja dan memperingati Rabu Abu (Ash Wednesday). Peringatan ini menjadi tanda dimulainya masa 40 hari menjelang Paskah (minus hari Minggu), yang disebut masa Lent. Sekadar informasi, Lent sudah menjadi bagian dari kehidupan gereja sejak kira-kira abad ke-2 atau 3, meski durasi 40 hari merupakan perkembangan di beberapa abad kemudian.

Mengapa spesial bagi kami? Pertama, ini adalah moment pertama kalinya kami khusus ke gereja memperingati Rabu Abu. Gereja tempat kami beribadah menyelenggarakan ibadah khusus, dan ini adalah Christian Reformed Church in North America, salah satu denominasi Reformed yang tertua.

Kedua, ini pun adalah pertama kalinya kami menerima tanda abu di dahi, sebagai simbol yang mengingatkan bahwa "manusia berasal dari debu dan suatu saat akan kembali menjadi debu." Bagi kami, tentu pengalaman ini sangat berkesan kuat; sama kuatnya seperti berada di pinggir liang kubur dan mendengar pendeta mengambil debu, mengucapkan kalimat yang sama, dan melemparkannya. Tentu saja tidak semua gereja melihat peringatan ini secara positif, dan itu sah-sah saja asalkan disertai dengan alasan yang masuk akal. Tetapi kami pribadi bersyukur untuk peringatan ini.

Ketiga, bukan hanya saya dan istri, tetapi anak kami juga menerima tanda abu di dahinya. Tentu sama seperti anak pada umumnya, dia bertanya: "Ini apa?" Saya dan istri sangat senang. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengajarkan sebuah kebenaran penting bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, dan suatu saat akan kembali menjadi debu. Dengan kata lain, malam ini saya telah menyampaikan doktrin manusia di dalam waktu 2 menit, dan dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh anak usia 4 tahun. Kami rindu agar sejak kecil, anak kami sudah mengerti bahwa dia diciptakan oleh Tuhan dan suatu saat akan kembali kepada Tuhan. Dan tentu kami berharap bahwa seiring usianya bertambah, entah hidupnya lancar atau tidak, dia selalu ingat bahwa dia adalah debu tanah dan dunia ini bukan rumahnya.

Di sinilah saya semakin diyakinkan betapa pentingnya mengajak anak-anak beribadah bersama dan berpartisipasi aktif. Sungguh, saya semakin tidak percaya dengan "legenda" bahwa konon anak-anak tidak bisa beribadah bersama orang dewasa, bahwa mereka tidak mengerti apa yang dilakukan di dalam ibadah, dan bahwa mereka hanya akan mengganggu ibadah. Kami telah membuktikan selama bertahun-tahun bahwa anak-anak bisa dan perlu beribadah bersama dengan orang dewasa. Mereka perlu dilibatkan dengan berbagai ritual di dalam ibadah. Dan itu terjadi lagi malam ini. Ritual menerima tanda abu di dahi yang dialami Lilian, menjadi pintu masuk bagi kami untuk mengajarkan sebuah kebenaran yang amat dalam. Maka sesungguhnya, ritual-ritual di dalam ibadah, di dalam anugerah Tuhan dan disertai dengan ketulusan hati kita, bisa menjadi sarana yang membangun iman kita. Dan sekali lagi, bukan hanya orang dewasa tetapi termasuk juga anak-anak.

Di sini sudah malam. Kapan-kapan saya lanjutkan lagi dengan berbagai pengalaman nyata bagaimana ritual di dalam ibadah menolong kami dan juga anak kami. 

Ngomong-ngomong, sewaktu istri saya ingin membersihkan abu di dahi Lilian, dia menolak. Dia berkata: "Aku ga mau dibersihkan. Aku suka ini!" Tentu saja istri saya tetap membersihkan dahinya sebab jika tidak besok pagi bantalnya akan penuh dengan noda hitam :) 
Hmmm...pengalaman yang menarik!

Sunday, 17 January 2016

Gereja dan Ibu

Dua minggu terakhir ini, saya sedang membaca sebuah buku berjudul Christianity in Roman Africa: The Development of Its Practices and Beliefs (Grand Rapids: Eerdmans, 2014). Kebetulan dosen saya di CTS, Dr. John Witvliet, yang menyuruh saya untuk menghabiskan buku setebal 670 halaman ini selama liburan musim dingin, sewaktu saya meminta panduan beliau untuk studi mandiri saya. Ada beberapa hal menarik dari buku ini, khususnya karena buku ini mencatat sejarah perkembangan ritual dan teologi di gereja-gereja di Afrika Utara, dari kira-kira abad ke-2 hingga abad ke-7. Meski khususnya penting bagi mereka yang mendalami ibadah, buku ini juga penting karena berpusat pada 3 tokoh penting dalam sejarah gereja: Tertullian, Cyprian, dan Augustine.

1 bab dari buku ini khusus mengulas bukti-bukti arkeologis yang dapat memberikan gambaran ritual-ritual yang dipraktikkan gereja pada masa itu, seperti bentuk bangunan gereja, ornamen-ornamen dan arsitekturnya, termasuk kolam baptisan dan kuburan. Sepanjang bab tersebut, ada banyak rujukan bahwa sejak permulaannya, orang-orang Kristen sudah memaknai gereja ibarat seorang ibu; misalnya melalui bentuk kolam baptisan, mozaik di dinding/lantai, dll. Kemudian di bagian akhir dari bab tersebut, penulis menyimpulkan bahwa di waktu itu, "The church building shaped the life and liturgy of the faithful and, when they died, it often opened its floor to receive their bodies" (163). Indah sekali!

Setelah membaca bab tersebut, saya semakin memahami arti di balik kalimat Cyprian ini: "You cannot have God as your Father if you do not have the Church as your Mother." Bayangkan, gereja ibarat seorang ibu yang melahirkan seorang anak melalui sakramen baptisan. Gereja juga bagaikan ibu yang menyuapi anaknya dengan berbagai makanan rohani, yaitu firman dan perjamuan kudus. Tatkala si anak berbuat salah, si "ibu" mendisiplin sekaligus menerima si anak itu kembali melalui ritual pengakuan dosa dan janji pengampunan. Bahkan, di konteks saat itu, gereja juga seperti seorang ibu yang kasihnya melampaui umur si anak. Setelah si anak itu mati, pangkuan si "ibu"--yaitu ritual penguburan--yang menjadi tempat peristirahatannya.

Gereja, baik dulu maupun sekarang, sama seperti ibu biologis kita: tidak sempurna dan punya banyak kelemahan di sana-sini. Saya melihat sendiri kekurangan istri saya (apalagi saya) dalam hal membesarkan anak kami. Tetapi satu hal yang saya tahu pasti: anak saya "tidak bisa hidup" tanpa mamanya. Itulah sebabnya, meski seorang ibu tidak sempurna, dan banyak ibu yang disfungsi, tidak ada seorangpun yang menyangkali sebuah realitas, bahwa seorang anak mutlak membutuhkan seorang ibu. Demikian pula halnya dengan gereja. Meski gereja tidak sempurna, bahkan ada yang disfungsi, seorang Kristen mutlak membutuhkan gereja, sebab dirinya sendiri adalah "gereja," anggota tubuh Kristus.

Bercermin dari kenyataan tersebut--bahwa orang Kristen mutlak membutuhkan gereja, maka saya berandai-andai:

A. "Bukankah indah jika anak Tuhan tahu dan ingat bahwa gereja adalah 'ibu'-nya?"

Ia senantiasa rindu untuk mendatanginya,
sebab anak mana yang tidak mencari ibunya?
Ia begitu antusias diberi makan oleh ibunya,
sebab anak mana yang tidak kangen masakan ibunya?
Ia ingin berlama-lama ditemani ibunya,
sebab anak mana yang tahan berjauhan dengan ibunya?
Memang tak sempurna, namun tak ada tempat terbaik selain bersama ibunya,
sebab ibu mana di dunia ini yang sempurna?

B. "Pastilah mereka kerap berdiri di depan cermin, dan mengatakan kalimat ini kepada diri sendiri:"

Engkau lahir dari seorang ibu, bukan?
Maka jangan lupakan ibumu!
Engkau tidak mau kekurangan gizi, sakit, dan melarat, bukan?
Maka jangan jauh-jauh dari ibumu!
Engkau tidak ingin anakmu meninggalkanmu, bukan?
Maka jangan tinggalkan ibumu!
Engkau tidak sempurna, bukan?
Maka jangan buang ibumu yang tak sempurna!

C. "Dan tentu saja mereka tidak akan melewatkan kebaktian doa Rabu malam, serta menanti-nantikan datangnya Minggu depan untuk beribadah."


[Satu Minggu setelah Epiphany, sehabis ketemu si "Ibu" tadi pagi]